-
30
Mar -
Revisi
- With 17 comments
Banyak orang dibikin stress karena revisi. Sebut saja misalnya kasus revisi pada skripsi yang pernah kita rasakan sebagai syarat untuk mendapat gelar sarjana itu. Mengapa jadi stress? karena tidak hanya uang yang harus kita korbankan (lagi), tapi juga tenaga, waktu dan pikiran.

Gambar diambil dari corbis.com
Definisi revisi menurut hemat saya adalah memperbaiki kembali hasil pekerjaan yang sudah kita lakukan. Pada kasus desain (grafis), merevisi ternyata juga cukup melelahkan. Mana yang warnanya kurang pas lah, gambarnya kurang tajam lah, hurufnya kurang besar lah, garisnya kurang tebal lah, dan seterusnya.
Idealnya pekerjaan merevisi bagi seorang freelancer desain (grafis) cukup dilakukan sebanyak 2 atau 3 kali saja, tapi di luar itu masih tergantung juga sama kesepakatan saat perjanjian kedua belah pihak. Untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan–seperti kerugian dan sebagainya, biasanya desainer akan mengenakan charge (baca: cas) jika jumlah revisi melebihi jatah yang telah disepakati.
Berapa besarnya charge tersebut? lagi-lagi tergantung sama kesepakatan kedua belah pihak. Jika proyek tergolong serius ada baiknya perjanjian dilakukan hitam di atas putih, karena tidak jarang penipuan terjadi dan tentunya salah satu pihak akan merugi.
Pada kasus ilustrasi vektor, revisi biasanya masih bisa dilakukan kecuali deadlinenya mepet dan permintaan revisi tidak masuk akal. Tapi untuk ilustrasi manual jelas ini dibutuhkan waktu luang. Pekerjaan memperbaiki kembali bukanlah hal yang mudah. Tidak hanya citarasa atau kepekaan dalam membaca warna tapi juga kemampuan memberikan estetika pada karya dimana setiap klien tentunya mempunyai selera yang berbeda.
Sudah saatnya saya pikir kita semua bisa belajar dari kasus revisi. Jika klien ingin mendapatkan hasil yang maksimal maka tidak ada salahnya jika idenya juga disampaikan dan didiskusikan dengan desainer terlebih dahulu, bukan asal-asalan memutuskan sesuai dengan apa yang diinginkan. Begitu pula halnya dengan desainer, sebaiknya tidak baik terlalu percaya diri dengan apa yang sudah dilakukan. Desainer harus siap menanggung resiko.
Desainer memang tidak hanya dituntuk kerja cepat, tapi juga tepat. Oalah, susah banget ya jadi desainer. Berani terima revisi lagi?? ah yang penting ada chargenya aja, hahaha… *just kidding
Salam kreatif!!
Postingan Terkait:
- Selera dalam Desain
Saya bisa katakan bahwa mendesain itu adalah hal yang sulit. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana masalah yang dihadapinya? Mendesain berarti membuat... - Penampilan
Penampilan sebuah blog sebaiknya perlu mendapat perhatian khusus. Akan lebih menarik jika blognya tematik (niche) dengan konten blog. Setuju kan?...






Ada 17 comments
¬ aNGga Labyrinth™
#3651 March 30th, 2009 at 5:31 pm
Huaa… ngak pernah ngebayangin klo designer juga ada revisi ternyata ya?
itu udah ada dalam perjanjian emang ya?
emang susah tuh revisi, klo emang dalam perjanjian ngak ada (dan ngak ada charge nya) males banget ngerjain nya klo diriku
¬ galih
#3652 March 30th, 2009 at 5:45 pm
kalau satu kali revisi masih lah..
tapi kalo udah 3 kali atau lebih..
baru dan stress datang
¬ dokter monte
#3653 March 31st, 2009 at 12:53 am
Pertama kali berkunjung… saya langsung takjub dan cuma bisa bilang “luar biasa ini blog yang bagus”. Boleh ya kapan2 saya ikut konsultasi, terus terang bikin gambar atau bikin manga adalah hobi saya juga. Indahnya hidup dengan seni. That’s a good value in art. Link saya kuga ya:
http://www.doktermonte.co.cc
http://www.meditasimendoan.tk
¬ Rakadewa
#3656 March 31st, 2009 at 4:31 am
wah…..salut…..harusnya aku dulu mendalami desain…
¬ Novianto
#3657 March 31st, 2009 at 9:16 am
wah desain di revisi…. capek deh…
¬ dafhy
#3658 March 31st, 2009 at 9:31 am
jadi desainer sulit ya rupanya
bisa minta di ajarin dunk
¬ didut
#3659 March 31st, 2009 at 9:48 am
aku pikir freelance itu sama juga seperti konsultan (kadang kadang) , ya namanya juga user biasanya memang byk maunya
¬ Rusa Bawean™
#3660 March 31st, 2009 at 10:27 am
tapi menurut saya lebih enahkan merevisi dari pada saat pertama membuatnya
¬ Hejis
#3661 March 31st, 2009 at 4:01 pm
Revisi perlu karena meningkatkan kualitas…
¬ diana bochiel
#3662 March 31st, 2009 at 6:11 pm
emang mas….revisi itu bener2 bikin mumeeeeeeeet…met..met….
apalagi klo dah di kejar daedline…
rasanya pen matii…..
halah lebay…
¬ okta sihotang
#3663 March 31st, 2009 at 7:26 pm
hohooo…
klo dah revisi aplikasi, pasti kepala ini ingin pecah,
aku kurang minat design ton
¬ reallylife
#3664 March 31st, 2009 at 9:17 pm
pengen juga sich jadi designer, tapi apa daya aku nda jago gambar
¬ Ray Rizaldy
#3665 March 31st, 2009 at 10:22 pm
dari yang daku pelajari di kuliah pengembangan perangkat lunak. sebenarnya yang membuat perangkat lunak itu mahal bukan pada proses pembuatan awalnya, tetapi justru pada proses perubahan2 setelah jadinya. in other word revision.
¬ lucid
#3672 April 1st, 2009 at 3:09 am
untungnya hidup di desa.. tidak ada saingan.. mau revisi? boleh, tapi harus charging lagee.. kagak mau.. sono cari tukang seting di kota.. moa ha ha..
¬ Deddy Huang
#3673 April 1st, 2009 at 5:43 am
Kemarin saya harus revisi desain saya sama klien, dan emank klien itu permintaannya banyak yang aneh-aneh. Bukan berarti kita gak terima ide dari klien, ya walaupun di charge tetep aja klien gak mau rugi..
Istilahnya: kalau bisa gunain designer itu cuma nol rupiah aja, tapi hasilnya satu juga rupiah
sempat gondok sih, tapi gimana ya.. sulit banget lepas dari si klien itu… mereka gak sengan2 minta free buat fee.
¬ zenteguh
#3689 April 2nd, 2009 at 1:45 am
bolak-balik revisi gak popo mas, sing penting rayabane gede yo kan..he..he..
¬ Qomer
#3771 April 10th, 2009 at 11:40 pm
Kalo aku sih yg penting klien senang mau bayar, bisa jadi menurut kita bagus, dianya gak cocok. Soalnya kita kan lagi bikin orderan … bukan karya seni … Kalo karya seni kan gak ada campur tangan orang lain … Bebas sesuka kita .. mungkin gitu ya ….