-
10
Feb -
Nostalgi(l)a Masa Awal Kerja
- With 31 comments
Catatan Pedih Saat Hidup di Jogja
Gambar diambil dari http://www.gettyimages.com/
Enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002 saya bekerja di sebuah studio foto di Jogja. Studio tersebut lebih sering melayani pelanggan untuk keperluan pernikahan dan wisuda. Studio yang namanya cukup besar dan disegani di Jogja itu mempunyai karyawan sekitar 30 orang. Lumayan banyak memang.
Saya bekerja disana menempati posisi desainer grafis setelah beberapa minggu lulus dari D1 PPDG (Program Profesi Desain Grafis) ADVY (Akademi Desain Visi Yogyakarta). Selama beberapa bulan disana, pekerjaan itu tidak pernah ada berhentinya. Maklum pekerjaan “merapikan” foto lalu menjadikannya dalam sebuah wedding album tidak pernah sepi order. Capek sih iya, tapi dari situ saya mendapatkan banyak pengalaman termasuk soal moral, gaji dan kesejahteraan nasib karyawan yang barangkali selanjutnya lebih cocok disebut buruh itu.
Berbicara soal kesejahteraan maka kita juga bisa berbicara soal gaji atau dalam bahasa kerennya disebut “salary”. Untuk ukuran Jogja, secara umum salary seorang desainer kurang mendapat penghargaan kecuali pada beberapa perusahaan saja. Berdasarkan pengalaman pribadi dan teman-teman yang saya kenal baik itu di dunia maya ataupun nyata. Mereka memutuskan hijrah ke Ibukota karena disana lebih menjanjikan meski tantangan hidup otomatis juga jauh lebih besar. Jakarta memang seperti neraka.
Sebagai catatan tambahan, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari desainergateway.com gaji seorang desainer junior kalau di luar DKI adalah Rp800.000-Rp1.500.000. Kalau di Singapura gaji untuk fresh graduate adalah S$1.700. Untuk Malaysia desainer yang fresh graduate/belum berpengalaman digaji MYR 1.300-MYR 2.500. Selisih yang sungguh menyakitkan hati bagi kami.
Logikanya seperti ini, jika salary yang kita dapatkan perbulannya kecil maka pengeluaran juga harus ditekan seminimal mungkin. Hidup sederhana dan apa adanya. Kata ini mungkin lebih cocok untuk mewakilinya.
Kita tahu bahwa industri desain di Negeri ini belakangan kian marak dan itu semua menurut hemat saya tidak bisa terlepas dari peran Jogja sebagai kota pendidikan. Kota yang terkenal dengan jalan Malioboronya ini telah memberikan banyak kontribusi positif dalam industri dunia kreatif.
Tidak hanya sebatas pada tataran wacana tapi juga pada penerapannya. Tidak hanya Jogja. Ada beberapa kota lain yang turut meramaikan kajian desain ini. Sebut saja Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang. Semua yang saya sebutkan adalah kota besar yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana dengan Makassar, Medan, Palembang atau yang lainnya? Saya kurang tahu karena belum pernah merasakan langsung atmosfer kreatif seniman disana. Saya hanya sempat merasakan Surabaya, Jogja, Malang dan Jakarta saja. Tapi saat ini saya sedang menjalani rutinitas kehidupan di Tangerang.
Saya mempunyai kesimpulan sementara, jika ingin mencari ilmu lebih baik pilih tinggal di Jogja, atau Malang saja karena biaya pendidikan dan biaya hidup relatif lebih murah. Kalau ingin bekerja secara total (dalam konteks dunia desain grafis) silakan pilih bekerja di kota yang besar dan tentunya yang menguntungkan kita.
Hingga detik ini saya masih memegang prinsip bangun sepagi mungkin tiap hari lalu mengais rejeki. Tapi ada juga orang yang berpendapat “yang penting kuat tidur malam dan melototi internet setiap saat sebagai tempat menghasilkan uang”. Itu adalah sebuah pilihan. Piye, Kang menurutmu? setuju sing endi? (Gimana, Mas menurut kamu? Setuju yang mana?)
Salam kreatif!!
Klik di sini untuk mengikutinya
Postingan Terkait:
- Lapangan Kerja Ada Lantaran Nyamuk
Bukan nyamuk kalau tidak menggigit. Bukan nyamuk kalau tidak menghisap darah. Nyamuk binatang kecil tapi merugikan banyak orang. Kalau... - Melamar Kerja dan Faktor Kegagalannya
Sumber gambar: http://www.iit.edu/~writers/index_files/PenPaper.gif Sempat saya mengumpulkana beberapa informasi terkait dengan kegagalan calon pekerja kreatif saat melamar di sebuah perusahaan.... - Fasilitas Ruang Kerja
Ilustrasi ruang kerja sekaligus sudut kamar saya. Gambar menggunakan outline drawing pen SNOWMAN, disapu dengan cat air PENTEL, diselesaikan... - Awal yang Luar Biasa
Sebagai pemilik rumah, saya mengundang anda sekalian untuk berkomat-kamit di blog saya yang masih dalam tahap pembangunan ini. Demi kemajuan... - Organisasikan File Kerja Kita (Sebuah Tips)
Saat di depan komputer, terkadang kita suka lupa akan melakukan apa. Pekerjaan demi pekerjaan datang tanpa hentinya. File terus menumpuk...






Ada 31 comments
¬ edy
#3002 February 10th, 2009 at 7:50 am
pengennya sih banyak tidur tapi duit ngalir terus
welkam tu tangerang, bro
¬ okta sihotang
#3004 February 10th, 2009 at 8:14 am
trus, sekarang mas mw jadi apa ??
tetap designer atau ??
¬ joe-gatel
#3005 February 10th, 2009 at 8:17 am
di semarang sndiri baru saja berkembang..
akhir2 ini banyak sekolah2 desain bermunculan..,
sukses bro!
¬ budiernanto
#3006 February 10th, 2009 at 8:55 am
ga hanya kerja aja, biaya les di jakarta aja udah beda sama di purwokerto, dan bedanya sebesar 50%, ck ck ck..
lalu anton yang baik, alangkah baiknya anton dan “seniman” lainnya tidak bekerja untuk orang lain, kalau cerdas kalian tau harus apa.
dan, jangan memotivasi orang kebanyakan untuk menjadi kaum urban, saya sedikit tidak suka sama mereka.
¬ Shasya Pashatama
#3007 February 10th, 2009 at 11:12 am
saya selalu aja pengen ngerasain tinggal di jogja lho
¬ gajah_pesing
#3008 February 10th, 2009 at 12:54 pm
saia malah gak pernah dibayar hiks..
¬ bento
#3009 February 10th, 2009 at 1:03 pm
Jogja enak kang gae urip. ga terlalu padet..tur kreativitas iso subur…semangat kang!
¬ aCist
#3010 February 10th, 2009 at 5:54 pm
Setuju Semua asalkan dapat menghasilkan uang, namun kalo saya selama kita rutin beribadah InsyaAllah semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa halangan AMIEN
¬ meyo
#3011 February 10th, 2009 at 7:33 pm
klo saya pilih yang gaji gede, trus fasilitas lengkap, kerja menyenangkan,ada jaminan untuk hari tua, pokoe makmur poool
:D
¬ eMo
#3012 February 10th, 2009 at 9:02 pm
duh.. jangan nyuruh M bangun sepagi mungkin deh..
¬ gelargelar
#3013 February 10th, 2009 at 10:07 pm
kerja sampingan sdh harga mati kesejahteraan disainer di negeri ini.bener kan ? ;D
¬ suryaden
#3014 February 11th, 2009 at 12:31 am
masih bingung cari uang…, bikin percetakan uang ajalah…
¬ ernut
#3016 February 11th, 2009 at 7:38 am
hampir semua pekerjaan wong cilik di indonesia di bawah UMR…belum lagi mikir mpendapatan petani, buruh-buruh pabrik…semua manusia punya keluarga…mumet deh!
¬ Ndoro Seten
#3017 February 11th, 2009 at 12:23 pm
Hidup lak koyo roda, kadang ning nduwur kadang ning ngisor, so what ngono lho?
¬ moerz
#3018 February 11th, 2009 at 1:47 pm
wih..
yang penting semangatnya bro..
¬ Elsa
#3019 February 11th, 2009 at 2:24 pm
yang pasti, pengalaman kerja yang didapatkan berharga banget kan Town…
¬ Luigi
#3020 February 11th, 2009 at 3:40 pm
Mas, pengalaman itu adalah lebih berharga dari nilai nominal yang pernah diterima – tanpa pengalaman seru itu kita bis amenghargai apa yang udha dicapai saat ini.. dan terus mengejar impian kedepan
Saya pun perjalanannya panjang, dari JKT – cabut bonek ke New York.. akhirnya nyangkut di PBB, tugas ke Iraq dan sekarang di negeri si bau kelek ini
Been there and done that..
¬ dee
#3021 February 11th, 2009 at 8:03 pm
sy blom kuat jd kalong. blom terbiasa dengan pola hidup yang pagi jd mlm, mlm jd pagi.. hmmm.. taun 2002 sy msh kul town, blm mikir betapa susahnya cari sebutir berlian ahahaha..
¬ zenteguh
#3022 February 11th, 2009 at 11:18 pm
pengin nang malang mas
sayang durung iso
asem tenan..
¬ pupu
#3023 February 12th, 2009 at 7:27 am
bagi aku, i prefer to work freelance. mawunya, tidur aja. haha
¬ nita
#3024 February 12th, 2009 at 11:39 am
gaji utk desainer junior itu UMR, ya….wah, keterlaluan juga. pdhal kan punya keahlian khusus
kapan start kerja di animasi, ton?
¬ Fenty
#3026 February 12th, 2009 at 6:39 pm
Wah kecil ya gajinya ??
kemaren aja aku dapet cuma 500 ribu :p, jadi drafter 2 tahun lalu 800 ribu, tapi bukannya pengalaman yang penting ya, hehehehe
NB : yang ditanyain kok kang doang sih ??
¬ sastroedi
#3034 February 13th, 2009 at 10:45 am
lam kenal.
Setahu saya, meski di Singapura gajinya besar, biaya hidup di sana juga besar. bandingkan dengan di Jogja, meski UMR di sana cuma 600rb-an (kalo tdak salah), tapi biaya hidup murah. Biaya makan aja, 5 ribu udah dapat nasi ayam + minum. g percaya? so…. syukuri aja….
¬ deltapapa
#3037 February 13th, 2009 at 12:49 pm
wah, rupanya alumni jogja ya dab, tenyata kita sama, saya juga pernah hidup susah masa kuliah di jogja. wesel sering telat …..
¬ bymo
#3040 February 13th, 2009 at 4:08 pm
memang salary di jogja sangatlh mengenaskan. saya juga punya pengalam ttg salary yg menyedihkan.
salam kenal ya mas….
¬ nirmana
#3045 February 14th, 2009 at 1:57 am
saya setuju dengan artikel ini tapi saya paling ga setuju sama yg gaji murah untuk profesi sang desainer.
¬ geRrilyawan
#3048 February 14th, 2009 at 3:14 am
penghargaan untuk desain di indonesia kayanya emang masih rendah bos. masih belum ada harganya. di kota besar pun juga masih ada yang punya pandangan gitu kok…
padahal desain kan ide. ide itu mahal…setujuuu?
¬ Bang Aswi
#3052 February 14th, 2009 at 8:20 am
Pada akhirnya kita sendiri lah yang memilih dan memilah. Kendati bergaji besar kalau kerja di Jakarta, saya lebih memilih di Bandung karena tingkat kenyamanannya. Wallahu’alam kalau di Jakarta juga bisa didapatkan kenyamanan itu, tetapi saya tidak mendapatkan kenyamanan di jalan-jalan Jakarta. Itu saja sih masalahnya ^_^
¬ maujadiseorangpembelajar
#3072 February 17th, 2009 at 7:28 am
saya juga dulu di jogja, sekarang di malang, tapi bukan lagi nyari ilmu dalam arti umumnya, tapi nyari hidup yang penuh dengan pilihan, ya belajar juga, belajar tentang kehidupan. Salam kenal
¬ surobraok
#5134 July 30th, 2009 at 11:30 am
setuju unt artikel ini, tapi jangan terpatok angka rupiahnya saja, karna biaya hidup tiap kota/ negara juga beda kan? Lagi pula kenyamanan itu lho, amat penting menurut sy
¬ antown
#5143 July 31st, 2009 at 6:17 am
bandung dan malang memang kota yang nyaman untuk berkarya dan mencari ilmu.
untuk bandung saya belum pernah mencoba hidup atau kerja disana. mungkin ada yg menawari? hehe