ad

Dalam tataran praktis, sebagian desainer (grafis) mengaku kurang peka terhadap bahasanya sendiri. Contoh sederhana misalnya dalam penyusunan kalimat, pemenggalan kata, penggunaan kata depan, dan lain sebagainya. Itulah alasan mengapa kemudian saya juga belajar menulis di blog supaya saya bisa belajar berbahasa dengan baik.

Blog sebagai media untuk mengasah kepekaan kita. Blog juga sebagai alat untuk merangsang imajinasi kita. Desainer idealnya tidak boleh hanya memprioritaskan urusan visual dan mengabaikan urusan verbal. Jika keduanya bisa diseimbangkan maka karya yang dihasilkan pun akan manjadi kebanggaan.

Ada komentar atau sanggahan?? sebentar. Saya masih ingin melanjutkan dulu ya. Mumpung jari-jari kecil saya masih ingin menari hehe…

Berjuang Bersama Pers Mahasiswa
Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat saya masih senang “nongkrong” di dunia persma (pers mahasiswa), saya dapat kesempatan mengenal banyak hal di dunia jurnalistik. Kesempatan ini jelas tidak saya sia-siakan. Semua posisi sudah pernah saya lakoni dari nol; mulai dari wawancara, ngumpulin data, hunting foto, cari iklan, bahkan sampai manjadi layouter. Sebenarnya poin terakhir itu yang membuat saya tertarik.

Dengan menjadi seorang layouter berarti saya punya kesempatan mendesain cover (baca: sampul majalah, tabloid). Karena ini yang kerap terjadi di persma Indonesia. Kalau jadi layouter berarti harus bisa desain juga. Menjadi layouter, berarti menjadi desainer, berarti pula menjadi editor bahasa. Maklum, SDM yang terbatas kadang menuntut kita untuk melawan batas–sesuatu yang tidak umum sering saya temukan di sini.

Sebagai sebuah laboratorium dan sekaligus media berkreasi, kita selalu ingin bahwa media yang sudah dengan mati-matian kita ciptkan itu ada yang mau membaca. Minimal menyentuhnya. Media karya persma tidak boleh menjadi sampah, itu keinginan saya.

Kita harus punya siasat supaya media (cetak) yang kita buat ini menarik. Itu yang saya gaungkan saat rapat dengan teman-teman atau saat bertemu dengan kawan-kawan dari persma kampus kota lain. Kerja keras pun dimulai. Perubahan dilakukan besar-besaran. Kopi dan rokok menjadi pemandangan yang sering kita jumpai. Ruangan menjadi asbak luas, pantas kalau ruangan menjadi kotor. “Kalau gak kotor itu bukan sekretariat persma”, celetuk mereka. Tapi catat, saya gak ngopi dan ngerokok. *Garing mode on.

Urusan bahasa sudah ada (saat itu kami minta bantuan pembina). Uurusan iklan pun sudah jalan, nah kalau urusan artistiknya kebetulan saya yang dipercaya.

Kita tahu bahwa media yang diproduksi oleh persma adalah media pembelajaran. Media persma menurut beberapa pengamat masih jauh dicap sebagai media professional meski sebagaian ada yang berani menjual. Saya masih semangat. Tidak mau menyerah begitu saja. Media fotokopian gratisan yang selanjutnya kita sebut buletin itu tersebar dengan baik di tangan mahasiswa, karyawan kampus, hingga pejabat kampus.

Media penuh kritikan itu saya buat layoutnya semenarik mungkin supaya tidak (lagi) menjadi bungkus kacang. Terinspirasi dari perubahan yang terjadi pada kompas, maka pengaturan kolom dan penataan halaman pun saya buat lebih enak dibaca.

Beberapa hal yang menjadi kelemahan media pers mahasiswa jika dipandang dari kacamata layouter adalah: readability atau keterbacaan judul sering diremehkan, pemenggalan kata kurang diperhatikan, tulisan tidak sesuai dengan porsi (baca: jatah) halaman yang disediakan–sementara iklan juga tidak didapatkan.
Masa Kerja di Jakarta
Barangkali berkat persma saya dapat kesempatan kerja pada sebuah pabrik kata-kata (baca: koran) di Jakarta. Tidak lagi saya mengenal kerja serabutan seperti apa yang saya temukan saat masih duduk di bangku perkuliahan. Di tempat ini saya ditempatkan di tim artistik dan selanjutnya disebut ilustrator, jabatan yang tidak pernah saya impikan sebelumnya.

Ilustrator di tempat saya bekerja dibagi menjadi dua bagian. Sebagian menempati posisi kartunis dan sebagian lainnya menempati posisi infografis. Saya berada di bagian kedua. Infografis dibagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu; lifestyle, sport dan news. Saya berada di bagian ketiga.

Sedikit gambaran tentang Infografis. Tugas infografis adalah membuat grafis sesuai dengan data yang tersedia. Misalnya tentang pemilu; untuk daerah A mendapatkan sekian persen, daerah B sekian persen dan daerah C sekian persen. Jadi makanan sehari-hari infografis adalah naskah, data dan juga angka.

Tidak mudah untuk membuat infogafis. Apalagi jika kita sudah mendekati deadline yang dalam hitungan menit mau tidak mau karya itu harus jadi. Pelajaran yang bisa saya petik di sini, sebagai ilustrator media kita harus sanggup bekerja cepat, tepat dan akurat. Bisa Anda bayangkan betapa sibuk setiap orang di dalam ruangan.

Sebelum deadline itu tiba, seorang asisten redaktur atau kadang redaktur selalu berada di samping kita. Terkadang editor bahasa juga diundang untuk menerjemahkan berita asing ke dalam bahasa Indonesia langsung dengan komputer yang kita pakai. Pemred dimana? untuk halaman yang dianggap penting biasanya seorang pemred juga turun tangan.

Bergaul dengan mereka setiap hari banyak cerita dan pengalaman saya dapatkan. Alhasil saya menjadi terbiasa bertanya kepada mereka, bahkan pada hal yang detail sekalipun. Karena jika kita bermain dengan data maka tidak boleh sampai salah atau tanggung sendiri akibatnya.

Sekarang saya sudah tidak berkarya di dunia koran lagi. Saya merindukan semuanya. Merindukan saat deadline tiba, merindukan saat data susah diterima, merindukan saat terpaksa harus menerima order grafis lebih, dan juga merindukan bermain kata-kata.

Maka pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ilustrasi di atas adalah seorang desainer jangan lupakan untuk belajar bahasa. Memang, ini bukan hal yang mudah. Tapi akan lebih tidak mudah jika kita tidak pernah mencoba.

Di bawah ini ada foto yang sempat saya shoot beberapa waktu lalu saat kopdar dengan Blogor (bloger bogor). Silakan dikoreksi. Menurut Anda, apa yang salah dari tulisan ini jika dilihat dari kacamata desain grafis.

Salam Kreatif!!

Postingan Terkait:

  1. Jangan Baca Tulisan Ini
    Berbagi Sedikit Tentang Manfaat Organisasi Dewasa ini, beberapa kampus di negeri ini yang membuka jurusan yang ada kaitannya dengan dunia...
  2. Edan, Bahasa Malang
    Orang-orang Malang punya bahasa yang khas. Disana ada budaya menggunakan bahasa walikan (baca: kebalikan). Seperti kalimat ini contohnya; “Arek Malang”...
  3. Jangan Takut Mencoba
    Sketsa digital ini hanya karya iseng saya saja. Saya buat dengan program olah foto, Adobe Photoshop. Tool utama yang digunakan...
  4. Jangan Takut Bermain Kata; Desain Typetees gantibaju.com
    Mana yang lebih sukar menurut Anda saat mendesain kaos; merangkai kata? Ataukah membuat gambar? Dua-duanya adalah sukar jika kita menganggapnya...
ad

Ada 19 comments

  • ¬ kenyo
    #4946 July 13th, 2009 at 5:27 am

    seru bgt deh pengalamanya… btw sapa tuh yg NUNGGU? ahahaha…

  • ¬ lala
    #4947 July 13th, 2009 at 10:11 am

    ah, kacamata gw mah minus 1/2.. dan menurut kacamata si sayah.. gada yg salah kok.. :) )

  • ¬ GiE
    #4948 July 13th, 2009 at 10:46 am

    wahaa… serem ih… pasti ditungguin ama si anu. Hihi.. :lol:

    Btw, tipografi header blog ini keren euy!

  • ¬ geRrilyawan
    #4949 July 13th, 2009 at 4:19 pm

    ya…blog juga saya jadikan tempat melatih kata-kata…

    kurang koma tuh ya….

  • ¬ adipati kademangan
    #4950 July 13th, 2009 at 5:06 pm

    saya coba yaa…
    “jangan kencing disini ada yg. nunggu.”
    terdiri dari 2 kalimat yaitu : “jangan kencing disini” dan “ada yang nunggu”
    Pertama kesalahannya ada pada kata “disini” “ibu nuggu bis kota”. kata nunggu ini cenderung kepada persepsi kita adalah “mendiami”. Biasanya sih makhluk halus sebangsa tepung atau kain sutra :D .
    Kalau koreksi saya seperti ini 1. “Dilarang kencing di sini, ada yang mendiami”
    2. “Dilarang kencing di sini, ada genderuwonya”

  • ¬ adipati kademangan
    #4951 July 13th, 2009 at 5:07 pm

    Ralat … ada yang ilang ketikannya.
    saya coba yaa…
    “jangan kencing disini ada yg. nunggu.”
    terdiri dari 2 kalimat yaitu : “jangan kencing disini” dan “ada yang nunggu”
    Pertama kesalahannya ada pada kata “disini” “ibu nuggu bis kota”. kata nunggu ini cenderung kepada persepsi kita adalah “mendiami”. Biasanya sih makhluk halus sebangsa tepung atau kain sutra :D .
    Kalau koreksi saya seperti ini 1. “Dilarang kencing di sini, ada yang mendiami”
    2. “Dilarang kencing di sini, ada genderuwonya”

  • ¬ adipati kademangan
    #4952 July 13th, 2009 at 5:09 pm

    HETRIXX
    saya coba yaa…
    “jangan kencing disini ada yg. nunggu.”
    terdiri dari 2 kalimat yaitu : “jangan kencing disini” dan “ada yang nunggu”
    Pertama kesalahannya ada pada kata “disini” ini adalah kata keterangan tempat, harusnya dipisah menjadi “di sini”
    Kedua, kata “yg” itu mungkin kita sudah maklum artinya namun ada titik setelah kata -huruf- “yg” ini yang membuat kalimat menjadi rancu.
    ketiga, kata nunggu disini artinya apa? apakah sama dengan menunggu seperti pada kalimat “ibu menunggu bis kota” menjadi “ibu nuggu bis kota”. kata nunggu ini cenderung kepada persepsi kita adalah “mendiami”. Biasanya sih makhluk halus sebangsa tepung atau kain sutra :D .
    Kalau koreksi saya seperti ini 1. “Dilarang kencing di sini, ada yang mendiami”
    2. “Dilarang kencing di sini, ada genderuwonya”

  • ¬ zenteguh
    #4953 July 13th, 2009 at 5:35 pm

    kurang gambare/ilustrasine mas…..

  • ¬ antown
    #4957 July 13th, 2009 at 8:09 pm

    @adipati kademangan: analisis yang bagus. lumayan…., tapi masih ada yang belum Anda ulas. apa itu? jangan menyerah ayo diamati lagi hehe…

  • ¬ Joni Balbo
    #4958 July 13th, 2009 at 10:54 pm

    Bahasa menunjukkan bangsa (komunitas), bahasanya orang iklan pasti beda dengan bahasanya orang di pasar tradisional, bahasanya budayawan tentu berbeda dengan bahasanya pedagang asongan.

    Dalam kaitannya dengan dunia iklan, maka copywriter yang handal dituntut menguasai berbagai bahasa komunitas yang berlapis-lapis, tentunya agar target iklan dapat lebih tepat sasaran. Namun dalam kapasitas kita sebagai blogger, secara tidak sadar kita sudah belajar merangkap-rangkap berbagai profesi, mulai dari menjadi copywriter, designer, pendongeng / pelapor, aktor sekaligus moderator. Kombinasi semuanya tentu berakhir pada muara yang sama, yaitu agar pesan tersampaikan dan terjalin komunikasi yang baik.
    Semakin sering kita menulis, makin terasah pula dalam memilih kata yg tepat hingga mampu membawa emosi pembacanya…

    Btw, soal “Jangan kencing di sini ada yang nunggu” sepertinya analisis dari mas Adipati sudah sangat bagus itu…Aku cuma menambahkan sedikit, penulisan tanda baca juga masih salah itu…
    tapi membaca pesan tsb (terutama jika foto ini dijadikan tema penelitian), idealnya tentu kita perlu tahu siapa penulis pesan tsb?
    karena kenyataan di masyarakat, pesan tersurat tentu membawa pesan tersirat yg beragam. Apalagi jika memahami bahasa “salah kaprah.

    Soal foto di atas, barangkali penulisnya memang menemukan media seadanya, karna keterbatasan tempat, faktor tata bahasa gak dipikirkan (mungkin krn gak tau juga), mungkin juga karena “saking” jengkelnya dengan pelaku “kencing liar”, penulis mencoba menghentikan dengan tindakan “MENAKUT-NAKUTI” yang menjadi senjata ampuh, dalam artian lain; barang siapa yg kencing di tempat yg dimaksud berharap bisa kuwalat… : ))

    Dari foto di atas, aku jd ingat salah satu papan larangan yang pernah dipasang di salah satu tembok ruang publik di Jogja.
    Larangan tsb begini bunyinya “DILARANG CORAT-CORET DI SINI”,
    tulisan tersebut tentu bermaksud untuk menghentikan para pelaku graffiti liar ..
    Tapi ada yang menggelitik di bawah tulisan tersebut (bombernya sangat kreatif), dia dengan PD menuliskan jawaban berukuran besar di bawahnya dengan cat pilox; “ YA, SAYA TIDAK AKAN CORAT-CORET DI SINI”,

    kreatif seeh kreatif… tp kl di tempat yg salah, gimana tu… ?

  • ¬ sewa mobil murah
    #4959 July 14th, 2009 at 10:42 am

    kencing disini jangan ada yang nunggu. :D

  • ¬ dita.gigi
    #4961 July 14th, 2009 at 7:51 pm

    apa ya? kebanyakan titik.

    jangan kencing disini ada yg. nunggu.

    mustinya mungkin :

    jangan kencing disini.

    disini ada yg nunggu.

    berhubung dia mau hemat, dijadiin satu aja deh… :D

  • ¬ aNGga Labyrinth™
    #4963 July 14th, 2009 at 10:42 pm

    Saya juga dulu masuk jajaran dewan redaksi majalah sekolah :P
    (cemen ya)

    Yahh… pada dasarnya diriku ini suka nulis, SMP pegurus mading, SMA pengurus majalah sekolah, Kuliah ngeblog.

    Tapi klo urusan bahasa rasa2 nya kok sedikit banget membaiknya yah.

    yaa… positifnya klo ujian matakuliah macam pancasila atau yang suruh memaparkan gitu seenggaknya udah terbiasa ngarang :P

  • ¬ Huang
    #4965 July 15th, 2009 at 9:11 am

    wah udah lama aku gak ke tempat bang antown..

    .. penunggunya di pohon bang antown ya? :p

  • ¬ adipati kademangan
    #4967 July 15th, 2009 at 12:09 pm

    keempat : penggunaan huruf kecil dan huruf besar tidak konsisten. MUngkin bagi pembuat plakat tidak penting namun bagi editor sangat fatal.
    Kelima : “jangan kencing disini ada yg. nunggu.” terdiri dari 2 kalimat (halah ngulang tulisan diatas) menurut saya bukan kalimat yang saling berhubungan.
    :( : jangan kencing disini
    :( : ada yg. nunggu
    :) : emang kenapa kalo ada yang nunggu? emang siapa yang nunggu? trus nanti saya diapain?
    Anggap saya ada bule yang mbaca, persepsi dari “penunggu” akan berbeda dengan persepsi orang lokal. Pesan yang tidak tertulis hanya dimengerti oleh orang lokal. (kok malah mbahas persepsi lagi sih ?? ywdh gpp yg ptg komen lg )

  • ¬ -GoenRock-
    #4969 July 15th, 2009 at 4:12 pm

    Yang salah dari tulisan di foto itu? Nganu, kurang terusannya. Yang bener: “Jangan kencing disini, ada penunggunya, namanya Antown”

    *nyungsep*

  • ¬ Uchan
    #4970 July 15th, 2009 at 8:51 pm

    Soal pabrik koran itu, kalo deadline dipaksa2 diuber2 tapi dengan standar gaji buat hidup yang wajar sih ga masalah. Ini buat hidup + bayar kost aja setengah matekkkk…

    Apa petinggi2 itu ga nyadar orang2nya pada mental yah?

    *) rada nostalgia dan berbau emosi

  • ¬ antown
    #4971 July 15th, 2009 at 10:42 pm

    seratus buat adipati kademangan. yap!! pada penggunaan huruf kapital dia tidak konsisten.
    Ini menjadi hal yang parah ketika dilanggar oleh editor bahasa. Maka dari itu kita belajar dan terus belajar. Tentunya salah satu medianya adalah blog.
    Adipati tidak tertarik ngeblog? apa alamatnya?

  • ¬ antown
    #4972 July 15th, 2009 at 10:45 pm

    @joni balbo: komen yang dahsyat. makasih atas analisanya. kapan2 dilanjut lafi di chat room okeh bung
    @uchan: sabar chan
    *ngelus dada

Name (Req)

E-mail (Req)

URI

Message
ad ad

Halaman

Link