ad

Tidak pernah saya bercita-cita jadi guru (dalam arti sebenarnya). Bahkan, saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kabupaten Malang beberapa tahun yang lalu saya sampai menolak ajakan kawan-kawan untuk menggantikan posisi guru di beberapa SD di kampung itu.

Mengapa menolak? Bukankah jadi guru itu pekerjaan yang mulia? Iya sih memang mulia, tapi saya tidak mau berperan dan bersandiwara di depan kawan-kawan. Biarkan mereka yang biasa mengajar atau lebih mampu yang mengambil kesempatan. Kebetulan ada beberapa teman tahu gimana kebiasaan dan aktifitas saya kalo di kampus. Saya bersama beberapa kawan perempuan diberi tugas mendekorasi dinding TK di kampung itu. Kontan saja saya terima dengan lapang dada. Hahaha…

Menjadi seorang guru memang dibutuhkan kemampuan khusus. Kemampuan yang sebenarnya bisa dipelajari oleh setiap orang termasuk saya misalnya. Sayangnya, saat masih kuliah dulu saya belum tertarik mempelajarinya. Sering lidah ini mendadak mati kehilangan kosakata begitu berhadapan dengan massa. Sering tingkah laku banyak yang keliru begitu mau maju. Mungkin saya bukan seorang calon guru, dalam arti sebenarnya.

Kemudian saya punya anggapan bahwa menjadi guru bukan hal yang gampang. Selain ditantang sabar juga harus bisa memikul beban besar. Saat ini, sebagian kawan yang saya kenal justru mengambil resiko itu. Saya salut sekali sama teman-teman saya itu. Mereka adalah teman saya saat SMP dulu, dan sebagian yang lain teman main saya di kampung halaman.

Saya ingin sedikit bercerita. Tiba-tiba saya teringat pengalaman mengajar beberapa tahun silam. Bukan mengajar sih, cuma mendampingi adik saya yang ingin belajar menggambar. Kebetulan adik saya tidak punya bakat menggambar manual. Bukannya tambah pinter nggambar tapi malah pinter “mancal-mancal”, nangis tak berkesudahan karena gambarnya gak jadi-jadi. Itu beberapa tahun yang lalu saat kita masih kecil. Sekarang, mungkin saya sudah bisa sedikit bangga. Kita sudah sama-sama dewasa dan adik saya lumayan terbiasa main CorelDRAW di komputernya.

Kembali lagi soal guru. Bagi saya semua orang yang saya kenal adalah guru. Tak terkecuali penghuni di dunia maya ini. Semua blogger adalah guru saya. Karena dari merekalah saya bisa belajar banyak hal.

Saatnya saya “balas dendam” sekarang. Balas dendam untuk berbagi pegetahuan kepada semua orang. Selagi masih ramadhan mungkin. Untuk kedepannya, mungkin banyak postingan saya yang bergaya kartunal atau grafikal. Tapi tetap dengan bumbu-bumbu sosial. Sungguh, ini bukan bualan atau bahan tertawaan saya.

Untuk semua yang pernah dan masih menjadi guru saya. Postingan di blog ini adalah hadiah untuk kalian semua. Terima kasih.

Gambar diambil dari corbis.com

Postingan Terkait:

  1. Warnai Hari Saya
    Pernah berpikir ‘tuk pergi Dan terlintas tinggalkan kau sendiri Sempat ingin sudahi sampai di sini Coba lari dari kenyataan Tapi...
  2. Hadiah Buku Sket Moleskin
    Sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan Saaba–seorang teman dari Malaysia yang rajin berkunjung ke blog visual ini–akhirnya mengirimkan juga buku...
  3. Produk Pentel Koleksi Saya
    Postingan ini bukan bermaksud pamer, melainkan lebih saya arahkan ke nilai informasinya. Kebetulan tiga produk di bawah ini pernah saya...
  4. Jika Saya ditanya Tentang…
    Jika dan hanya jika (saya berkhayal) bahwa wawancara seperti di bawah ini pernah terjadi… Jika kamu bisa berubah menjadi warna,...
  5. Hadiah Puisi dari Negeri Jiran
    We need friends for many reasons, all throughout the season. We need friends to comfort us when we are...
Category: Gambar Sketsa
ad

Ada 20 comments

Name (Req)

E-mail (Req)

URI

Message
ad ad

Halaman

Link