ad

Dalam dunia akademis, seseorang akan mendapatkan gelar sarjana jika telah melaksanakan kewajiban masa studinya—menyelesaikan sekian SKS (Satuan Kredit Semester), telah KKN, dan seterusnya. Lalu dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang akan mendapatkan gelar Abah atau Umi’ jika dia telah melaksanakan rukun Islam yang ke lima, yakni Haji.

Sedikit intermezzo, di kampung saya, ada seorang yang setiap harinya bekerja sebagai penjual ikan pindang di pasar. Sekembalinya ke tanah air dia mendapatkan panggilan baru yakni kaji pindang. Sungguh aneh, padahal “pindang” kalau di Jawa Timur itu adalah nama ikan. Kalau jualan tahu yang berangkat ke tanah suci sekembalinya juga dipanggil kaji tahu. Walah… sungguh aneh. Tapi inilah kekayaan budaya kita.

Berbicara soal gelar, pernahkah kita memikirkan darimana gelar desainer itu didapatkan? Apakah karena seseorang itu pernah kuliah di kampus DKV/Deskomvis (Desain Komunikasi Visual)? Ataukah karena faktor pekerjaan sehari-harinya yang selalu membuat desain (grafis)?

Gambar: gettyimages.com

Seumpamanya nih, di rumah kita ada komputer yang di dalamnya ada program desain dan tiba-tiba seorang tetangga minta dibuatkan kartu nama atau undangan tahlilan sederhana; apakah kemudian kita bisa disebut layouter sekaligus desainer?

Pertanyaan demikian saya lempar dalam sebuah situs forum diskusi. Kebanyakan menjawab “iya”. Alasannya tahu kenapa? Mereka bilang “ya” karena disebut desainer jika seseorang mendesain atau merancang sesuatu. Okelah, sampai di sini saya setuju dengan pendapat itu, tapi perlu dicatat bahwa gelar desainer tidak bisa didapatkan begitu saja. Ini menurut hemat saya lho.

Maksud saya seperti ini, bahwa gelar desainer itu juga perlu mendapat pengakuan dari orang lain. Siapa sajakah itu? Mereka adalah masyarakat umum atau publik, bisa juga calon customer atau klien kita. Semakin banyak jam terbang seseorang dalam berkarya maka semakin layak untuk diakui sebagai desainer. Ini adalah pokok bahasan yang remeh temeh tapi bagi mereka yang aktif di forum atau milis desain, pembahasan seperti ini bisa menjadi kian serius.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah ingin menjadi banyak hal kecuali dokter, insinyur, pilot dan presiden. Di masa pertumbuhan keinginan itu masih tetap ada lalu menjadi sesuatu yang kian mengkerucut. Kalau boleh saya sebutkan disini, keinginan saya adalah menjadi seniman terutama seni rupa. Betapa cita-cita yang tidak umum, bukan?

Masih hangat di kuping saya suara-suara itu. Banyak orang awam mengatakan, jadi seniman itu harus banyak puasa karena hidupnya tidak menentu. Saya ingin sekali mematahkan opini ini karena alasan yang mereka kemukaan ini tidak cukup mendasar karena pengertian seniman itu sesunngguhnya luas. Anda sepakat dengan pendapat saya?

Seniman dalam dunia seni rupa saja kategorinya banyak dan salah satunya adalah desainer (grafis). Seniman juga masih digolongkan lagi, ada yang disebut seniman murni, dan ada juga yang disebut seniman terapan. Lalu dimanakah letak perbedaaannya?

Seniman murni adalah seniman yang berkarya atas inisiatif dan kemauannya sendiri. Mereka adalah seniman idealis yang barangkali tidak mempedulikan apa keinginan pasar atau apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sementara seniman terapan adalah mereka yang bekerja demi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Ilmu seninya dipakai dan diterapkan dalam pekerjaannya. Mereka berpikir bagaimana caranya supaya produk seninya laku terjual.

Desainer

Tidak ada kata menyesal menjadi seorang desainer. Sama halnya jika Anda telah mendapatkan apa yang telah cita-citakan selama ini. Menjadi desainer sesungguhnya punya beban moral. Menjadi desainer sesungguhnya bukan untuk kesombongan.

Desainer sama halnya dengan manusia biasa yang juga mempunyai kelemahan. Di satu sisi terkadang dicap bagus, jago, dan kreatif karena bisa menciptakan sesuatu yang membuat hati seseorang berdecak kagum. Pada sisi lain kadang desainer dianggap kurang responsif karena terlalu cuek dan individualis.

Masih tertarik menjadi desainer meski tahu akibatnya akan seperti itu? Silakan turuti kata hati saja. Jangan takut menjadi desainer, karena desainer pada dasarnya juga beribadah—secara pekerjaannya adalah menciptakan sesuatu yang indah kemudian dinikmati orang lain.

Sedikit tulisan ini tentunya masih banyak kekurangan karena tidak mendalam. Jika tertarik untuk menambahkan saya persilakan selama diberikan rasionalisasinya. Tanggapan atau pertanyaan akan saya jawab semampu saya.

Salam kreatif!!

Postingan Terkait:

  1. Xtra: Lowongan Desainer
    Ada titipan lowongan desainer grafis yang ingin saya sampaikan. Datangnya dari teman saya yang bekerja di Majalah Swa, berlokasi di...
  2. Yok Jadi Desainer
    Menjadi seorang desainer bagi saya adalah sesuatu yang menyenangkan. Mengapa? Karena menjadi desainer berarti berkesempatan untuk merancang sesuatu dari yang...
  3. Jadilah Desainer Pintar
    Desainer dan Karyanya Siapapun yang ingin serius terjun dalam bidang desain sebaiknya mempunyai banyak modal, baik modal finansial, pengalaman, maupun...
Tags:
Category: Gambar Sketsa
ad

Ada 13 comments

  • ¬ aR_eRos
    #2897 January 30th, 2009 at 3:07 am

    sek sek dipertamaxi sek
    komentare minggu depan ae hehe
    - – -
    wakakaa, mumpung pertamax masih gratis ya kan

  • ¬ aR_eRos
    #2898 January 30th, 2009 at 3:10 am

    ya ya ya designer juga manusia. sama seperti blogger. kadang di puji kadang juga dicela *iya ndak ya?*
    - – -
    lebih sering dipuji apa dicela nih? hohooh, kedua2 nya gak baik kalo bagi saya

  • ¬ nita
    #2900 January 30th, 2009 at 5:47 am

    desainer juga manusia

    setiap profesi sama aja, ton. semuanya menghasilkan suatu karya, bentuknya aja yg berbeda2. pujian dan kritikan bagian dr profesi itu
    - – -
    iya mbak, saya hanya melihatnya dari sudut pandang desain saja biar klop sama konten blog ini. makasih mbak nita….

  • ¬ okta sihotang
    #2901 January 30th, 2009 at 8:51 am

    jadi teringat ama seriusband..hehhehe
    - – -
    seurius band apa serius band? wah saya gak ngikuti hehhee, tapi kok tidak menampakkan keseriusannya ya? kayaknya lebih cocok bergaya komedian hahaha

  • ¬ tito
    #2902 January 30th, 2009 at 9:51 am

    Jadi kepikiran, desainer yang sudah punya nama bisa mudah menuai apresiasi walaupun mengerjakan desainnya dengan ngawur.
    Eh, sudah bolehkan profesi desainer ditulis di KTP? :D
    - – -
    tapi bukan berarti desainer bisa asal-asalan membuat sessuatu kan bro? hehe…
    wah ide yang bgus tuh, dimasukin ke KTP sebagai identitas resmi hahaa… saya juga jadi teringat soal desain undangan pernikahan seorang teman yang berupa desain kayak SIM

  • ¬ casual cutie
    #2904 January 30th, 2009 at 10:45 am

    sebenernya sih desainer ga mesti desainer fashion . tapi rata rata orang indonesia sudah tertanam di otaknya kl desainer itu notabene adalah untuk fashion. designer grafis <<< ini seperti arsitek kah??

    heee…..
    - – -
    bukan gitu deh mbak, arsitek itu profesi sendiri. Tapi dia juga sama2 pekerja kreatif. Pekerjaannya sama2 mendesain hanya wilayah pekerjaaannya saja yang beda. Kadang dalam sebuah perusahaan ada beberapa orang yang mendesain dan hasilnya dikolaborasikan sampai dengan produknya jadi nantinya

  • ¬ aNGga Labyrinth™
    #2905 January 30th, 2009 at 11:26 am

    Desainer gelar yang keren,, karya nya bakal langsung bisa diliat dan ada bentuknya kan..

    lha klo programer.. maya banget hasil nya
    - – -
    meski desainer itu keren di mata orang, tapi dia juga punya beban karena tiap karya yang dibuat juga harus bermanfaat lah minimal. programmer bisa juga kan pake CD untuk portofolionya?

  • ¬ heLL
    #2906 January 30th, 2009 at 1:16 pm

    yoi yoi yoi desainer juga manusia..
    - – -
    kenapa hell?? ada pengalaman seru?? cerita dunk

  • ¬ suryaden
    #2907 January 30th, 2009 at 2:16 pm

    harus lapang dada dan menerima komplain dengan positip sebagai cambuk kreaitfitas….
    masalah rejeki adalah seni yang harus dikreasikan juga…. walah.. pokoknya… maju terus…
    harus berani miskin biar kalo kaya nggak kaget… kekekeke….

  • ¬ astrid savitri
    #2908 January 30th, 2009 at 2:26 pm

    Nah, temen2 saya punya gojek kere ttg profesi desainer grafis, sebab thn ini pekerjaan itu ‘megang’ banget – soalnya sangat diperlukan buat membikin desain poster caleg ;)

  • ¬ Bang Aswi
    #2909 January 30th, 2009 at 2:31 pm

    Apapun profesinya (jangan mengerucutkan bahwa profesi adalah yang harus melalui jalur sumpah2an segala seperti pengacara, apoteker, dll ya….), semuanya harus bermuara pada kata PROFESIONAL. Tanpa ini, dia tidak berhak atas profesinya itu.

  • ¬ Uchan
    #2910 January 30th, 2009 at 3:16 pm

    Sebenernya ngeliat kasus ini sama kayak ketika kamu bikin blog pake WordPress. Antara orang yg coding sendiri webnya dari 0 dan kita yg ngeblog make engine wordpress sama2 menghasilkan halaman2 web yg bisa dilihat orang dan hampir gak ada bedanya.

    Kalo dikotomi2 yg bikin gap antara master-cecunguk masih ada, gak bakal ada konsep wordpress, joomla (CMS for nubitol), dll.

    Zaman sekarang emang zaman instant. Tergantung kreasinya di otak dan bagaimana hasilnya. result yg menjual. Yang menjual itu apa? selera masyarakat.

    Apa semua masyarakat itu seniman jago tool2 design? nggak kan.

    Menurut saya, ini soal hasil

  • ¬ serendipity55
    #3126 February 20th, 2009 at 11:15 am

    suka neh ma quote yg ini “Jangan takut menjadi desainer, karena desainer pada dasarnya juga beribadah—secara pekerjaannya adalah menciptakan sesuatu yang indah kemudian dinikmati orang lain”…..btw, tergantung orangx juga khan, smg nilai estetika itu tidak mengurangi etika dan spiritualitas dlm beragama :-)

Name (Req)

E-mail (Req)

URI

Message
ad ad

Halaman

Link