Berbicara Warna Laskar Pelangi
Dalam hal menggambar kartun, akan dianggap kurang pas jika kita menggambar seorang pengemis dengan baju berwarna merah, kuning atau warna2 yang dianggap mencolok. Mengapa? karena warna ini adalah warna milik orang kaya, orang berduit atau orang borjuis.
Sama halnya dengan seni fotografi, saat kita mendapati seorang pengemis duduk kelaparan mengais makanan di tong sampah McD dengan latar belakang orang makan di dalam ruang kaca tentunya itu momen yang menarik sebagai karya fotografi kategori humanis. Tapi kalau si pengemis pake baju warna merah dan pakaian yang dipakai nggak ada compang-campingnya maka karya tadi juga akan sia-sia saja. Fotografi yang hitam putih mungkin masih bisa menyelamatkan karya tersebut.

Saya akan sedikit mengkritik poster film laskar pelangi di atas. Dapatkah anda menerka apa yang bakal saya kemukakan di sini?
Sebagai bocah yang tinggal di lingkungan pertambangan (Belitong), keseharian mereka dalam film itu digambarkan selalu berpakaian kumal atau apa adanya. Mereka hidup di lingkungan terpencil, bukan di kota (tanah masih terhampar luar. Buaya liar pun masih terlihat asyik di tengah rawa). Sampai di sini saya masih sepakat dengan arahan sutradara atau costume designernya. Titik.
Akan tetapi setelah saya melihat poster film ini saya otomatis merasa ada yang janggal. Baju-baju yang mereka pakai tadi udah tidak nampak lusuh lagi. Semuanya nampak seperti sudah dicuci bersih. Bahkan kemeja sang pemeran utama yang jatuh cinta sama A Ling itu (paling depan) tampak licin. Nggak klop banget deh pokoknya sama realitanya. Itu yang dari segi pakaian, belum lagi soal make up nya.
Ada alasan mungkin yang mendasari kenapa baju mereka saat difoto kok warnanya berubah. Kok warnanya indah. Kok warnanya warna-warni. Mungkin yang mendesain poster film ini ingin supaya posternya bagus, supaya tampak eye catching dan sebagainya. Okelah itu hak dia karena toh poster ini juga sudah jadi dan terpublikasi dimanapun dan di media cetak apapun. Saya berprasangka baik; mungkin si desainer juga ingin menyesuaikan sama warna latar belakang poster film ini yang sedikit ber”pelangi” sesuai dengan cover novelnya.
Tapi sebenarnya untuk menciptakan sensasional, menggebrak pasar atau mencuri perhatian, si desainer juga tidak wajib mengikuti aturan–misalnya memakai warna dasar seperti yang ada di buku atau novel itu. Toh yang nonton sebagian besar juga pasti mereka yang sudah membaca novel ‘kan? Desainer poster disini mungkin bisa membuatnya lebih dramatis dari apa yang mereka tangkap dalam film tersebut. Desainer bisa menggambarkan karakter kesedihan dan keriangan anak-anak SD Muhammadiyah itu. Masih banyak lagilah saya pikir. Dan lagi, pose simetris seperti ini sudah terlalu banyak dipakai. Saya berharap karya poster ini juga bukan karya jiplakan lagi seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu itu.
Salam Kreatif!
—————————–
Suasana nonton bareng di Blitz Pacific Place bareng Chika.
Saya memakai kaos biru jaket putih (nomor tiga dari kiri bawah). Gambar diambil dari blog Chika.
—————————–
Postingan Terkait:
- Film Indonesia “Makin Indonesia”
Kemarin, di tengah saya mengerjakan infografis, kepala saya tiba-tiba tertuju pada monitor kawan sebelah kanan saya. Kebetulan dia sedang buka... - Hasil Pencampuran Warna RGB
Apa yang anda lihat sekarang di monitor ini adalah warna RGB. Warna RGB–singkatan dari Red Green Blue–adalah warna yang berasal... - Warna Heksa
Pada postingan terdahulu saya pernah menuliskan tentang bagaimana kita membuat komposisi warna heksa yang pas dengan bantuan skema warna online... - Katakan dengan Warna
Gambar diambil dari catnaps.org “Coba lu kasi warna seperti ini”, ucap bos saya sambil memberikan contohnya. “Buatlah sebuah karya... - Qtemu Juga Akhirnya; Skema Warna Online
Mengoplos atau mencampur warna bukanlah hal yang mudah. Bahkan untuk mencampur warna pada konteks pewarnaan mobil (baca: otomotif) dibutuhkan...





pertamaaaaxx..ntar ajah bacanya..hahah
Ah, orang awam kek sy mah menilainya udh cocok. Konsepnya dah dapet. Intrepretasi yg melihat bisa bermacam2. Tergantung dr mana dia mencermanya.
yay..sudahlah town…hanya sekedar baju..saya pikir cuma antown yang mempermasalahkan hal ini..yaayyy
[bertanya-tanya] memakai kaos biru jaket putih, yg keningnya sedikit menyilaukan, itu siapa yaks? (thinking) sepertinya pernah lihat..
namanya juga laskar pelangi, warna warni gitu, bos
yah, yg penting kan imajinasinya jalan, kan ? kannn
udah nonton wkt mudik kmrn di kampung..
posternya masih relevan koq *kata gw* tho baju2 yg dipake gada yg keren, standar ajah.. apalagi si pemeran utama kan ga dibilang miskin banget2 kaya gembel.. masa harus pk baju compang-camping.. kl kaya gitu mah malah terlalu didramatisir jdnya.. heheee..
town, ralat: bukannya kopdar nonton waktu itu di Blitz Pacific Place??
*OOT*
Saya mah belum sempet nonton, baru baca novelnya.
menurut saya malah ga ada masalah sama sekali. inti dari film ini adalah “Laskar Pelangi” yang menuntut warna warni yang indah. Dan pantes lah orang mau dipoto itu dandan dan pake baju terbaiknya. MUngkin baju yang di poster itu adalah baju terbaik yang dimiliki ama mereka. Sama kayak pas Ikal mau lomba cerdas cermat dan bajunya disetrika ampe mulus ama ibunya. Lagian mereka itu bukan gembel, mereka cuman orang pedalaman yang melek kota. come on….
laskar pelangi? soundtracknya paling mantep! hahhaha
Saya malah suka dengan poster pilem LP ini, –identik banget dengan novelnya. Siapapun yg pernah mbaca novelnya akan langsung akrab dan merasakan kesan “Ah, they’re alive!!”.
Untuk pemilihan warna, komposisi dan olah-digital –justru saya paling kasi jempol. Warna, baju, gesture dan make up yg ‘ceria’ justru menegaskan spirit dari pilem LP ini. Lagian, spt komen novee –baju yg mereka pake bukan kemeja Versace, kaos Quiksilver ato jaket Nike yg mahal2. Smua terlihat wajar dan gk berlebihan..
Well, itu menurut saya sih..
yaaah… maklum sih kalo loe ngeritik… org ga da kjaaaaaannnn
hehehe
piss ah
lebih suka petualangan sherina ah
waks… sayah malah belum sempat nonton…
Mohon maaf lahir bathin…
entah sebagus apa filmnya, yang pasti bisa menumbuhkan minat baca penontonnya. bagus..
Salam town…
ada benarnya kritikanmu..cuman setelah aku mbaca komen sebelumnya masuk akal juga. Tapi kalau menurutku dalam segi ekspresi mereka dapat banget cuma mungkin memang efek kesederhanaan mereka memang akan “lebih dapat” kalau pakaiannya agak kurang serapi posternya, mungkin kusut aja dah cukup mewakili…oke town ???
Wasalam ….
ambil positifnya ya ..
http://www.asephd.co.cc
yah gw lom nonton neh film ton, ga ada duit
aku juga dah abis 3 novelnya…seru bgt…
masalah poster, no coment aja dech, selagi itu kritik mengbangun aye sih dukung aja…
maaf lahir bathin ya sobat .
Yup !
ya semuanya nggak ada yang sempurna om!
wkekekekeke!
kemaren barusan nonton pilemnya,, sy kurang suka dgn filmnya,, tapi suka dgn ceritanya
semoga bukan jiplakan aja ya, seperti poster film ‘Namaku dick’ (yg maen tora sudiro)
bagiku, yang penting ceritanya
kebersahajaannya tetap keliatan kok. jadi ingat anak2 di kampung sumatra dulu..seperti itulah mereka
nontoh sekalian kopdar juga ton
@rezki: ah kau ini selalu mementahkan tulisanku
@nico: makasih dah berkunjung ya
@kitaabdiri: hoi, itu artis loh masak gak kenal xiixixix (s_dance)
@warmorning: iya jalan sih jalan, tp kurang klop menurut saya
@novee: emang gak keren, tapi warnanya itu masih terlalu ngejreng mpok. bukan berarti harus compang-camping loh
@emyou: oiya, dooh saya kok lupa sih. makasih ya diingetin. nanti saya ralat pha
@gajahkurus: kapan mau nonton? saya ikut!!!
@fenny: huuuh fenny!! foto artistik itu gak harus pake baju terbaik
@inda: suka nidji ya?
@masova: betul apa yang masova katakan. memang akan familiar orang liat warna ini, apalagi jika udah baca bukunya. tapi tidak harus dibuat seperti itu kan (dengan warna yang pelangi juga)?
@lala: ah kau ini nonton filem, jalan2 ke dufan gak ajak2?
@septy: ayo nonton. bagus filmnya. iya maaf lahir batin juga
@kishandono: iya, sepakat
@sukartoen: okeh2. okeh saya bisa menangkap. makasih komennya
@kaka: siap!! tapi kita harus kritis juga. jangan apa2 dibuat positif
@okta: ayo nabung dulu bro…hehhee
@awan: kuat ya baca 3 novelnya. ya sama2
@trendy: semuanya harus diperbaiki kalo mau bagus. kita harus bisa belajar dari kesalahan
@ongki: iya, semoga nggak jiplak juga. soalnya saat ini blom ketahuan
@nita: iya mbak, kopdarnya disebut nobar alias nonton bareng
mas, ada award neh dari para penggemar, awards for you
atown ki riwil. ampe poster dikritisi segala. Piss town. Kalo saya sih posternya gak ada masalah. Tapi kalo diliat dari segi warna yang ndak ngerti saya. Ajarin town. Mau?
lom nonton om filmnya, komennya nanti aja deh……
*kaboooor*
Bener Mas,kaLo kayak gitu bukan seperti pengemis,,, tapi seperti anak keciL biasa,, dan cma muka nya aja yang agak kumeL dikit,he,he,he
Atau jangan-jangan jika warna bajunya lusuh, warna gelap, menjadi penonton kurang tertarik? Saya tidak suka nonton yang sad ending, atau yang seram-seram…jadi yang menarik minat adalah yang gambarnya (poster) ceria boleh deh ditonton, sampai anakku pun ketawa.
Mungkin ini juga yang jadi pemikiran si pembuat poster karena film ini untuk semua umur…tapi filmnya tetap menarik kan, bajunya pun lusuh dan sesuai kondisi dilapangan.
poster laskar pelanginya aku culik ya. hehehe…