Antisipasi Kepadatan Penduduk
Ilustrasi; Goenrock yang sedang ngeplurk
Senin ini adalah hari pertama pasca lebaran dimana mayoritas karyawan, pekerja, dan buruh mulai masuk kerja. Tentunya Kota besar seperti Jakarta ini harus bersiap-siap dengan “tamu baru” yang pasti akan datang dalam jumlah yang tidak disangka-sangka. Entah dengan motif klasik seperti ingin mengadu nasib ataupun sekedar membantu saudara yang sudah bekerja.
Berdasarkan informasi di televisi swasta yang saya saksikan selepas subuh tadi, beberapa stasiun atau terminal di Jakarta sudah mulai dipadati puluhan ribu manusia yang melakukan aktifitas arus balik. Di daerah Tugu Tani, sebelah selatan Stasiun Gambir misalnya, lalu lintas yang biasanya masih lengang hari ini sudah cukup ramai kendaraan. Pejalan kaki yang mau menyeberang tidak sebebas hari kemarin dimana sambil memejamkan matapun bisa sampai di seberang jalan.
Goenrock, blogger dan plurker Jakarta, membuat posting dalam salah satu threadnya; “Kalau balik ke Jakarta gak usah deh bawa saudara soalnya Jakarta sudah sesak dengan lautan manusia”. Tidak lama kemudian beberapa komentar muncul satu demi satu yang kebanyakan memberikan respon positif. Saya paham betul jeritan hati Goenrock, yang jelas semua orang pasti akan mengatakan hal yang sama.
Akan tetapi menurut saya kondisi demikian cukup dilematis, mengingat seseorang yang membawa saudaranya ke Ibukota salah satu alasan kuat yaitu untuk memperbaiki nasib keluarga yang ada di daerah. Bukan sekedar berwisata atau penasaran ingin naik KOPAJA.
Jadi, antisipasi terhadap semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk di Jakarta sudah menjadi tugas wajib dan PR besar bagi pemerintah kota dan diharapkan segera mencarikan solusinya. Karena jika dibiarkan, Jakarta yang sudah panas ini akan semakin padat dan sesak, persis dengan apa yang diutarakan Goenrock di atas.
Postingan Terkait:
- Tentang Karikatur
DEFINISI dan PROSESNYA Dalam tulisan saya kali ini saya akan mengulas sedikit tentang bagaimanakah proses pembuatan karikatur itu. Pendeknya, pengertian...





yaaa begitulah mas, lah wong semuwa di pusatin di yaharta, coba ibukota nya pindah bojonegoro yg notabene istrinya negara kikikiki
Mwahahaha! Saya kemaren malah coba ngeracuni salah satu sodara saya dikampung biar ndak usah kembali ke Jkt, tapi gagal! (doh) Nuwun Mas wes dibikin karikatur saya! Mantep tenan! (worship)
cakepan karikaturnya daripada goenrock… *kabur*
lho lho, jadi bener ya dugaan awal saya? itu karikaturnya goenrock! wakakakk
ternyata saya jago dalam hal menebak wajah orang jelek *lirik2 @goenrock* waakakaka pizzzzz!!!
Tendang @chika & @fenny ke Amazon! (lol)
Sebaiknya ga perlu ada larangan untuk saudara kita yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Jakarta milik semua orang, ga ada satu golongan pun yang berhak memiliki sepihak. Melarang mereka untuk datang ke jakarta adalah pelanggaran hak asasi manusia. Setiap orang berhak atas penghidupan yang layak.
Kita lihat dulu apa akar masalah urbanisasi tersebut! Ya jelas, karena blom ratanya pembangunan dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan. Saya yakin bila pemerataan ini berkembang sampai ke pelosok, arus urbanisasi akan semakin berkurang.
Masalah Jakarta yang semerawut jangan di ‘peperi’ kepada pendatang aja. Jakarta adalah ibu kota negara, pintu gerbang negara, sudah selayaknya juga rapih, tertib dan teratur. Tapi jangan menyalahkan pada mereka yang ingin ‘mengadu nasib’ di jakarta.
Jakarta memang padat, wajar, kota metropolitan, sebentar lagi mungkin akan menjadi megapolitan. Pemerintah DKI Jakarta lah yang seharusnya lebih tanggap menangani permasalahan ini. Masalah pemukiman, sampah, lalu lintas, polusi, pengangguran, tingkat kriminalitas, dan lain sebagainya akan turut mewarnai problematika ibu kota. Nah soal itu, mari kita cari solusi dan benahi bersama-sama, sudah saatnya masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Ibu Kota berlaku tertib.
Saudara kita yang ingin bekerja di Jakarta juga sebaiknya turut menjaga ketertiban dengan menjadi warga Ibu Kota yang baik. Silahkan datang, silahkan hirup udara Ibu Kota, silahkan mencari uang di Jakarta, tapi ingat, mereka harus turut serta menjaga ketertiban Ibu Kota ini.
peace!
himbauan yg juga sering saya dengar tapi kesannya aneh, melarang warga sendiri datang ke ibukota –malah sampai ada razia KTP jakarta segala, lama2 nanti warga luar jkt kalo datang ke ibukota harus pakai passport
pemerintah kadang mau gampangnya saja dg melarang semut mendekati gula. sudah pasti gak menyelesaikan masalah. seharusnya pemerintah menciptakan gula2 baru di seantero nusantara supaya semut2nya tersebar merata
*kok aku jadi ngomongin semut ya*
wah kalo pendatang baru yang mau jadi warga dki harus dites nggambar, kayaknya bakal unik komposisi penduduknya